Saturday, October 22, 2016

Selamat hari santri nasional

Assalaamu alaikum..
Sebelumnya, saya ingin mengucapkan Selamat hari Santri Nasional..
Happy Santri day! Semoga selalu menjadi santri yang selalu bertaqwa kepada Alloh subhanahu wata 'ala..
Semoga selalu menjadi santri yang solihin solihat..
Semoga selalu menjadi santri yang berbakti kepada kedua orang tua..
Semoga selalu menjadi santri yang berguna bagi nusa bangsa dan agama.. Amin.. Amin.. Yaa robbal aalamiin..

Sebenarnya, saya ingin sekali menulis artikel untuk memperingati hari santri ini, tapi saya belum mendapatkan hidayah tentang tema apa yang akan saya tulis disini.. Hahaha..
Namun kebetulan dan mungkin ini adalah hidayah bagi saya juga..
Kemarin, di pondok pesantren roudhotu tahfidzil quran perak jombang telah diselenggarakan pengajian dalam rangka memperingati tahun baru islam 1438H dan menyambut hari santri nasional.
Jadi saya menulisnya seperti yang telah disampaikan beliau, KH. Husain Ilyas dari Mojokerto dalam pengajian tersebut.
Kajian yang beliau sampaikan tidaklah jauh dari hari santri nasional ini.

Bekal untuk anak
Dalam pengajian tersebut, Seperti yang sering diutarakan beliau sebelumnya, menjadi orang tua haruslah memandang jauh tentang masa depan anak-anak..
Kenapa demikian? tambah beliau di awal pengajian tersebut.
Karena jaman semakin maju dan akan berdampak pada segalanya.
Supaya anak-anak kita tidak ketinggalan kemajuan jaman dan agar selalu menjadi minassolihin solihat.
Seorang anak harus dibekali 3 perkara, yaitu..
1. Anak harus sekolah.
2. Anak harus ngaji.
3. Anak harus sholat.

Kenapa anak harus sekolah? Lanjut beliau.
Kalau anak sekolah, seorang anak pasti akan pintar dan akan berguna bagi masyarakat sekitar.
Anak kalau sudah pintar maka tidak akan ketinggalan kemajuan jaman.
Lalu kenapa seorang anak harus mengaji?
Sebab dengan mengaji anak akan menjadi anak yang jujur.
Dan lalu kenapa anak harus sholat?
Karena secara tidak langsung sholat akan mengajari anak untuk berdisiplin, tambah beliau.
Baca juga: Blogwalking adalah silaturrohim
Hebatnya pondok pesantren.
Dalam kajiannya, beliau juga menyampaikan tentang "kehebatan" pondok pesantren.
Dalam pondok pesantren, tidak hanya diajarkan membaca dan menulis saja, tapi yang paling istimewa adalah doanya sang kiyai.
Doa kiyai kepada para santri di pondok pesantren adalah sama seperti doa Nabi kita Muhammad SAW kepada umatnya, tambah beliau..
Subhanalloh..

Kemudian beliau juga bercerita tentang hebatnya pondok pesantren.
"Tersebutlah..
Ada seorang santri, sudah nyantri di pondok tersebut hampir selama 15 tahun.
Entah karena apa atau saking bodohnya, semua pelajaran yang dia pelajari tak satupun ia bisa terima.
Semua temannya sudah pada pulang karena ilmu yang mereka pelajari di pondok tersebut sudah cukup.
Tapi hanya dia saja yang tetap tinggal karena belum satupun ia kuasai.
Hingga suatu hari dia ingin pulang dan sowan ke kiyai..

Assalamu alaikum..
Yai.. Saya minta izin mau pulang, sudah bosan saya mondok dan lama sekali hampir 15 tahun saya disini tapi tidak satupun pelajaran yang bisa saya kuasai.
Begitu juga teman-teman saya sudah pulang semua, Kalau disuruh mengajar saya pun tidak bisa dan kalau saya minta ajar saya juga merasa malu..
Selain daripada itu tujuan saya pulang adalah untuk mencari pekerjaan, kata santri itu.

Sang kiyai juga menjawab..
Begini.. Seumpama kamu tidak usah pulang dan saya beri pekerjaan disini, bagaimana?

Si santri pun mengangguk setuju dan sangat berterima kasih..

Sang kiyai pun lanjut menjawabnya..
Begini.. Kamu akan saya beri pekerjaan untuk memboncengku setiap kali ketika mengisi pengajian di desa-desa.
Aku juga merasa sudah terlalu lelah untuk mengayuh sepeda.

Alhamdulillah.. Saya sangat berterima kasih yai.. Jawab santri.

Singkat cerita, tak terasa sudah hampir setengah tahun si santri tiap malam selalu mengantar dengan ikhlas kemana pun sang kiyai mengisi pengajian di tiap desa.
Dan suatu hari si santri merasa ada yang aneh pada dirinya.
Kemudian dia pun menemui kiyai nya.

Assalamu alaikum..
Yai.. Saya kok merasa ada yang aneh pada diri saya? ucap si santri.

Ada yang aneh gimana? Jawab sang kiyai.

Lalu si santri pun bercerita.
Begini yai.. Saya ini diajar pelajaran apapun sama sekali tidak bisa tetapi semenjak tiap malam membonceng yai untuk mengisi pengajian-pengajian, apapun yang yai kajikan di tiap pengajian.. Al-Qur'an beserta artinya saya menjadi hafal, Hadist yang yai kajikan di tiap pengajian saya pun hafal beserta artinya dan semua yang yai kajikan di semua pengajian saya merasa seperti merekamnya.

Dan sang kiyai pun menjawab Itulah yang namanya "futuh" hatimu telah dibuka oleh Alloh.
itulah ilmu laduni.

Lalu si santri lanjut berkata.
Begini yai.. Mohon maaf sebelumnya.. Seumpama suatu hari yai tidak bisa mengisi pengajian karena ada halangan, Insya Alloh saya sanggup menggantikan.

Kebetulan.. jawab sang kiyai.
Nanti malam ada pengajian di desa perak.
Masyarakat desa perak itu mengetahui namaku tapi tidak tahu wajahku.
Nanti malam kita kesana, tapi aku yang memboncengmu, Tambah sang kiyai.

Tapi yai.. jawab si santri.

Sudahlah kamu menurut saja.. Sahut sang kiyai.

Mohon maaf yai.. Si santri melanjutkan bertanya.
Panjenengan kalau mengisi pengajian kan selalu memakai jubah?

Iya.. Sahut sang kiyai.
Jubahku, sarungku, kopyahku kamu pakai.
Terus sarungmu, kopyah dan bajumu saya pakai.
Dan yang membonceng adalah aku..

Sudahlah.. Turuti saja apa-apa yang aku katakan.. Tambah sang kiyai.

Tibalah pada malam acara pengajian.
Sang kiyai pun membonceng si santri.
Sesampai di tempat pengajian, sang kiyai disambut dengan hormat oleh panitia.
Tapi kali ini yang disambut adalah si santri karena memakai jubah kiyai dan dalam posisi dibonceng.

Lalu dipersilahkan menduduki kursi undangan.
Sungguh beruntung.. Panitia menempatkan pada kursi yang berjejer bersebelahan.
Jadi masih bisa berbincang-bincang dengan sang kiyainya sebelum memulai pengajian.

Sang kiyai pun berkata..
Nanti kalau namaku dipanggil untuk memulai pengajian, segeralah naik ke podium..

Iya yai.. Jawab si santri, saya minta doanya.

Tiba waktunya nama sang kiyai dipanggil, si santri pun berdiri dan naik podium.
Sampai diatas di atas podium dan semua yang hadir tidak mengetahui kalau yang berdiri di podium itu adalah santri sang kiyai.
Dan berkat doa sang kiyai lah si santri dapat dengan lancar memberikan kajian pada malam itu."


Semoga kita dapat memetik hikmah dari cerita tersebut.
Dan doa sang kiyai akan selalu mengiringi semua santri di pondok pesantren.

* Diceritakan kembali oleh KH. Husain Ilyas di pengajian pondok pesantren roudhotu tahfidzil quran perak jombang dalam rangka memperingati tahun baru islam 1438H dan menyambut hari santri nasional.
Wassalamu alaikum

6 komentar

Berarti masyarakat kita masih menilai seseorang dari pakaiannya. Jubah dan peci putih.
Dan itu terjadi sampai sekarang, makanya tidak mengherankan semua orang berbodndong-bondong berjubah biar kelihatan alim dan mumpuni ilmu agamanya. Ah itu mungkin aku yang salah ,beda tafsir boleh ya. mungkin ini tafisrnku yang salah kaprah.
Dan aku juga pernah mondok, 5 tahun. Dan ilmu agamaku tergolong tinggi ,tapi ukuran tinggi dari bawah ya ? Ya, masih TK, gitulah.

Itu pak kyai begitu mengerti dan memahami muridnya. Tidak ada ilmu yang disembunyikan, tidak gila hormat. Tapi jaman sekarng, aduh...kalau tidak dipanggil haji, bisa kena marah.

kritis mas.. Oh iya.. Pertamaxnya jangan lupa..

kayak haji mukidi.. Eh haji mukidin.. Oh iya pertamaxnya sudah diambil mas blangkon..

Justru masyarakat lebih melirik apa yang dibonceng :D

Aku juga pernah punya guru yang sangat rendah hati seprti cerita diatas. Tapi sayang, kadang ceramahnya dicibir hanya karena ekonomi dan pakainnya sederhana. Tidak berjubah dan tidak bergelar haji. Tapi wawasan keagamaanny sungguh luar biasa. Dan aku pengagum atas kesolehannya.
Ah sekarang, banyak murid yang berguru pada mbah google,...langsung melihara jenggot panjang dan berjubah , depan namanya dikasih gelar ustasdz, kyai kalau perlu habib. geleng-geleng kepala.

Mohon maaf, bila admin telat membalas.. untuk kirim pertanyaan silahkan kunjungi fanpage: fb.com/romli.net